Bedah Buku #1 Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas - Eka Kurniawan


gak berusaha untuk jadi book blogger ato book reviewer
gak berusaha untuk me review secara lengkap dan detail
review buku di blog ini untuk sekedar mengingatkan otak kanan bahwa isi buku ini pernah bermain2 didalamnya

gaktau mau nulis apa (loh?)
gaktau juga bisa review apa nggak
gue tulis se-ringkas dan seinget gue aja ya..

lagi bosen dirumah
lagi pengen beli sepatu di sports station
alhasil gue ke Metropolitan Mall, beli sepatu dan mampir ke gramed dengan pikiran: mau coba baca buku ah, biar otak gue gak sepeleng ngeliat instagram sama chat yg kosong mulu. ea. gagaga. mau coba lebih produktif aja sama diri sendiri, perbanyak to do list nyata dalam hidup, kayak olahraga, baca, belajar bahasa. semua belum gue lakuin dengan bener2, tp baca itu hal yg paling bisa dibawa mager, so i thought that this might be a start for something new, a better me. biar otak gue gak dirusak platform hp dan pubg mobile mulu, yg sekali kita masuk, udah kayak wormhole, susah keluar.
jadi curhat, lanjut review!

ini buku Eka Kurniawan pertama yang gue baca.
pertama tertarik karena judul buku, kedua karena sekilas liat isinya yg nyeleneh: banyak kata k*ntol, m*mek, p*nis, tai diumbar dengan mudah oleh penulisnya disini. mikirnya: kalo penulis pemula ya apa bisa nulis kata gituan? yang ada bisa dicengin editor duluan.

it is weird and comical. i keep imagining the scenes moved like comic books. unreal and yet I am reading it.

saat membaca, gue merasa apa ya.. segar (?) don't get me wrong. bukan karena buku ini membahas sesuatu yg vulgar. tapi ada keindahan dalam sebuah novel ini. dan kalo lo mau ikutan baca, lebih baik kosongin dulu otaklo dari hal2 ngeres. nanti lo bisa ngeliat keindahannya.

Buku ini tidak hanya bercerita tentang sebuah cinta, namun juga sebuah penantian beserta kesabaran dan kerinduan yang meliputi penantian tersebut. dan ketika pada akhirnya gue mengira pergulatan panjang dalam kerinduan tersebut akan ditutup dengan bahagia, gue kembali dikejutkan dengan sebuah akhir yang tak terduga.

Sebagai pembaca newbie (bukan sbg fans eka kurniawan), pembaca seharusnya  bisa mendapatkan banyak sekali pelajaran dari kehidupan. Ini bukan novel yg menyajikan nilai2nya dengan muluk2. mas Eka ini tidak membiarkan "masakannya" ditelan begitu aja, pembacanya seharusnya  memang mencernanya lebih dulu, dikunyah, baru ditelan. kalo cuma disuap langsung ditelan, pasti aja langsung panik dan nyinyir saat ngeliat taburan kata2 vulgar disepanjang novel.

minus: gaya tulisan sastra dengan frasa2 pengibaratan yg indah bakalan nggak/jarang lo temuin disini krn memang mas Ekanya sendiri unconventional writer.
plus: tapi entah kenapa lo bakalan ttp ngerasa buku ini enak dibaca, emosilo tumpang tindih, pengibaratan yg gak unik bikin terasa kalo buku ini indah versinya.

udah ah gitu aja.

rating buku: 4.5/5 bintang


bukan foto gue. gue males moto. ntr aja dirubahnya. copyright photo: Mbah Google

Comments

Popular Posts