Surat Ini Untukmu

 


                   Halo Assalamualaikum, wah aku sudah lama tidak menulis surat, dan kebetulan sekali surat ini akan menjadi surat yang pertama untukmu. Namun sejujurnya aku tidak tahu tulisan ini akan berbentuk surat atau kutulis di blog saja, kalaupun kutulis di blog saja, aku tidak yakin tulisan ini akan dibaca, yah tapi hidup baru saja memberiku pelajaran bahwa perasaan yang dipendam itu bisa menyebabkan hati bisulan, itu menyakitkan dan melelahkan, jadi sebaiknya kutulis saja... dibaca atau tidak, bukan soal.

                “Kenapa tidak ngomong langsung?” Hmm habis ku pikir... kenapa ya, kadang rasa itu kalau diungkap malah kehilangan magisnya. Kalau seniman rasa pasti mengerti ya, betapa kata-kata itu kadang bukan mendeskripsikan rasa, tapi mereduksinya. Oleh karena itu sebaiknya coba kutulis saja agar melalui kata-kata, rasa ini tetap tersampaikan.

                Begini, aku kesulitan membayangkan apa ungkapan kekaguman yang belum pernah kamu terima, kalau saja aku memakainya, sekedar biar kau mengingatnya secara spesial buat tempat dihatimu sana, tapi sulit sekali.. mungkin memang tidak ada ya. Kubayangkan semua ungkapan kekaguman dari yang paling sederhana sampai yang paling melambungkan jiwa, dari yang sekelebatan sampai yang memberikan kesan dalam, mungkin sudah pernah kau dengar dan kau terima dari orang-orang terdekat atau yang pernah bersamamu, dan diatas semua itu, kau tetap bisa menjejak bumi dengan kokohnya.. So grounded, so humble, dammit.. Maybe you’re not realize that you’re indeed such that adorable I guess.. Semoga kau tak jengah ya mendengarnya. Honestly I’m a little ashamed saying this.

                  Kita memang baru bertemu lagi bulan April kemarin, dari sebuah silaturahmi bersama kawan-kawan lama di tempat kerja waktu itu. Dari sana kami bercerita pengalaman masing-masing yang lucunya banyak kesamaan dari cerita kita. Terus aku mulai mendengarkan ceritamu dan terpesona begitu saja, aku lalu berasa sebelumnya tinggal di galaksi andromeda sampai ada persona semempesona dirimu tak terdeteksi radarku, ups. And then we started talking and went for an iftar together, and I found the fact that you as a person, and personality are such that incredible adorable, Masyaallah Tabarakallah maha sempurna Dia yang menciptakanmu. Ditambah, kamu sayang sekali dengan ibumu. So I think your mom is really an excellent strong anchor, an awesome guardian angel for you. Titip salam hormat buat beliau ya.

Mengenalmu, waktu demi waktu mengubah beberapa hal dari hidupku, and let me tell you, ini pertama kali aku menyadari bahwa peranmu itu bisa sedemikian besar dan mendasar bagi hidup seseorang. Iya, di usia hampir kepala 3, fase berbunga-bunga ini baru datang kembali di hidupku. Sounds so weird ya, weird and a little bit embarrassing actually. Tapi begitulah, fase yang umumnya ku rasakan di usia belasan sampai 20-an, baru ku alami lagi di usia matang.. astaga, hidup memang bisa sebercanda itu ya. Mungkin pula fase ini disiapkan tuhan biar aku lebih rileks dan lebih berempati menghadapi api dari gejolak perasaan “ter-disconnect” dari kehidupanku yang sebelumnya. Perasaan yang paling aku takuti sebagai seorang laki-laki, terpisah dari orang-orang terdekatnya. Mengenalmu, menghindarkanku dari rasa sakit itu.

Aku menulis sambil terus berpikir, blog macam apa ini... Tapi pikiran itu akan merusak momennya sekarang, jadi aku lanjut ya.

Hidup baru saja memberiku pengalaman turbulensi emosi yang nyaris melumpuhkan daya juang. Ku googling-googling, itu namanya Burn out. A little bit unbelievable bahwa orang seumurku with almost all fine family and surroundings bisa selabil itu... but, it happens. Rasa itu ternyata semacam kimiawi otak yang ada diluar kendaliku. Dan yaampun, I can’t believe I tell this to you, someone I barely know. Mungkin karena aku enjoy berbicara denganmu, aku jadi bisa merasa seconnect ini, atau karena aku sedang butuh teman bicara untuk memperlambat laju akumulasi emosi negatif that burns me out, atau mungkin karena aku yakin ini tidak akan terbaca, jadi rasanya bebas untuk ngomong apa saja. Whatever, writing this, releasing all the single feeling, makes me feel better. Lebih ringan aja rasanya. Although I’m still struggling to cope with these negative feelings, aku mensyukuri fase ini, fase yang bisa memperkaya kosarasa hidupku. Jika kosakata bisa melancarkan komunikasi, maka kosarasa bisa memudahkan empati, keduanya berharga.

Dari nyimak obrolanmu pula, aku bisa merasakan kepekaanmu terhadap sekitar, orang tua, dan orang-orang disekelilingmu dan membayangkan bahwa life is all about delivering every single feeling to our surroundings as a human being. Dari situ aku jadi mengagumimu dalam proses delivering the feeling itu, dengan semua vibrasi positifmu, kamu punya peran besar disitu.

Anyways, makasih ya. Sepertinya sudah terlalu panjang, menulis sepanjang ini kuanggap sebagai prestasi karena beberapa minggu kemarin di bulan puasa ini aku benar-benar malas ngapa-ngapain, dan ini cukup menyedihkan untuk seorang kakak laki-laki yang punya tanggung jawab kasih contoh yang baik untuk adik-adiknya. Kalaupun yang sepanjang ini tak terbaca, sungguh tak apa. Menuliskannya saja sudah cukup buatku lega. Mungkin akan kusambung lagi kapan-kapan. Maaf kalau membuatmu jengah. Hidup adalah plot twist yang asik. Misterius itu emang seru. You deserve the whole world, indeed. Lalu surat ini untuk siapa? Kamu tau siapa dirimu, dan ya, ini untukmu.
Wassalamualaikum wr wb.

Best regards,

With Love & Light, I.



Comments

Popular Posts